PROSES PEMBENTUKAN KARAKTER
Proses mengetahui, menghayati, melakukan dan membiasakan
Karakter
adalah sebuah kata yang tidak ada artinya jika tidak dihubungkan dengan
manusia. Gordon Allport mendefinisikan Karakter manusia sebagai kumpulan atau
kristalisasi dari kebiasan-kebiasaan seorang individu. Sedangkan Chaplin
mendefinisikannya sebagai kualitas kepribadian yang berulang secara tetap dalam
seorang individu. Dari sudut proses pembentukkannya ada ahli yang mengatakan
bahwa Karakter manusia itu adalah turunan (hereditas), sebagian lain lagi
mengatakan lingkungan yang membentuk Karakter Kepribadian seseorang. Kita tidak
mempersalahkan ataupun membenarkan salah satu pandangan di atas. Yang pasti
kedua faktor di atas sangat berperan di dalam pembentukan Karakter Kepribadian seorang
manusia. Tapi yang paling penting untuk diperhatikan adalah bahwa
kebiasaan manusia setiap hari itulah
yang akan membentuk Karakter seorang manusia.
Terbentuknya
karakter seseorang melalui proses yang panjang. Dia bukanlah proses sehari dua
hari, namun bisa bertahun-tahun. Dalam ilustrasi seorang yang tinggal sementara
di Singapura sebelumnya, kita berharap sepulangnya dia dari sana karakternya
akan berubah, tapi kenyataannya tidak. Ini menunjukkan, waktu satu tahun belum
sanggup membentuk karakter.
Suatu sikap atau prilaku dapat menjadi karakter melalui proses berikut:
1. Mengetahui
2. Menghayati
3. Melakukan
4. Membiasakan menjadi karakter yang baik
Pemahaman atas
tahapan pembentukan karakter ini akan sangat mempengaruhi jenis interfensi apa
yang diperlukan untuk membentuk karakter secara sengaja. Akan sangat berbeda
interfensi yang dilakukan pada saat karakter baru pada tahap pengenalanan
dengan tahapan pengulangan atau pembiasaan.
1. Mengetahui (Knowledge)
Pembentukan
karakter dimulai dari fase ini yaitu kesadaran dalam bidang kognitif.. Untuk
seorang anak, dia mulai mengenal berbagai karakter baik dari lingkungan
keluarganya. Misalnya, pada keluarga yang suka memberi, bersedekah dan berbagi.
Dia kenal bahwa ada sikap yang dianut oleh seluruh anggota keluarganya, yakni
suka memberi. Kakaknya suka membagi makanan atau meminjamkan mainan. Ibunya
suka menyuruh dia memberikan sedekah ketika ada peminta-pinta datang ke rumah.
Ayahnya suka memberikan bantuan pada orang lain. Pada tahapan ini dia berada
pada ranah kognitif, dimana prilaku seperti itu masuk dalam memorinya.
2. Mengahayati (Understanding)
Setelah
seseorang mengenal suatu karakter baik, dengan melihat berulang-ulang, akan
timbul pertanyaan mengapa begitu? Dia bertanya, kenapa kita harus memberi orang
yang minta sedekah? Ibunya tentu akan menjelaskan dengan bahasa yang sederhana.
Kemudian dia sendiri juga merasakan betapa senangnya ketika kakaknya juga mau
berbagi dengannya. Dia kemudian membayangkan betapa senangnya si peminta-minta
jika dia diberi uang atau makanan. Pada tahap ini, si anak mulai paham jawaban
atas pertanyaan “mengapa”. Pada tahap ini yakni kedalaman kognitif dan afektif
yang dimiliki oleh individu.
3. Melakukan (Acting)
Jika kedua
aspek diatas sudah terlaksana makan akan dengan mudah dilakukan oleh seseorang
yaitu sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan suatu pekerjaan.
Didasari oleh pemahaman yang diperolehnya, kemudian si anak ikut menerapkannya.
Pada tahapan awal, dia mungkin sekedar ikut-ikutan, sekedar meniru saja.
Mungkin saja dia hanya melakukan itu jika berada dalam lingkungan keluarga
saja, di luar dia tidak menerapkannya. Seorang yang sampai pada tahapan ini
mungkin melakukan sesuatu atau memberi sedekah itu tanpa didorong oleh motivasi
yang kuat dari dalam dirinya. Seandainya dia kemudian keluar dari lingkungan
tersebut, perbuatan baik itu bisa jadi tidak berlanjut.
4. Membiasakan
Tingkatan berikutnya, adalah terjadinya internalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam suatu sikap atau perbuatan di dalam jiwa seseorang. Sumber motivasi melakukan suatu respon adalah dari dasar nurani. Karakter ini akan menjadi semakin kuat jika ikut didorong oleh suatu ideologi atau believe. Dia tidak memerlukan kontrol social untuk mengekspresikan sikapnya, sebab yang mengontrol ada di dalam sanubarinya. Disinilah sikap, prilaku yang diepresikan seseorang berubah menjadi karakter.
Seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang suka berbagi, kemudian tinggal dalam masyarakat yang suka bergotong royong, suka saling memberi, serta memiliki keyakinan ideologis bahwa setiap pemberian yang dia lakukan akan mendapatkan pahala, maka suka memberi ini akan menjadi karakternya.
Seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak menekankan sopan santu, tinggal dalam lingkungan yang suka bertengkar dan mengeluarkan makian dan kata-kata kotor, dan tidak memiliki pemahaman ideologi yang baik, maka berkatan kotor mungkin akan menjadi karakternya.
Tahapan yang telah dipaparkan diatas akan saling pengaruh mempengaruhi. Mekanismenya ibaratkan roda gigi yang sling menggerakkan. Mengenal sesuatu akan menggerakkan seseorang untuk memahaminya. Pemahaman berikutnya akan memudahkan dia untuk menerapkan suatu perbuatan. Perbuatan yang berulang-ulang akan melahirkan kebiasaan. Kebiasaan yang berkembang dalam suatu komunitas akan menjelma menjadi kebudayaan, dan dari kebudayaan yang didorong oleh adanya values atau believe akan berubah menjadi karakter.
1.2 Pengkondisian dan Keteladanan
1. Pengkondisian
Pengkondisian
berkaitan dengan upaya untuk menata lingkungan fisik maupun nonfisik demi
terciptanya suasana mendukung terlaksananya pendidikan karakter. Kegiatan
menata lingkungan fisik misalnya adalah mengkondisikan tempat sampah, halaman
yang hijau dengan pepohonan, poster kata-kata bijak yang dipajang. Sedangkan
pengkondisian lingkungan nonfisik misalnya mengelola konflik supaya tidak
menjurus kepada perpecahan, atau bahkan menghilangkan konflik tersebut.
Pembentukan
karakter sopan santun (menghormati orang lain) melalui pengkondisian dapat
dilakukan dengan beberapa cara. Diantaranya (Lickona, 2013):
1)
Menciptakan
Komunitas yang Bermoral
Menciptakan komunitas yang
bermoral dengan mengajarkan siswa untuk saling menghormati, menguatkan, dan
peduli. Dengan ini, rasa empati siswa akan terbentuk.
2)
Disiplin Moral
Disiplin moral menjadi alasan
pengembangan siswa untuk berperilaku dengan penuh rasa tanggung jawab di segala
sitasi, tidak hanya ketika mereka di bawah pengendalian atau pengawasan guru
atau orang dewasa saja. Disiplin moral menjadi alasan pengembangan siswa untuk
menghormati aturan, menghargai sesame, dan otoritas pengesahan atau pengakuan
guru.
3)
Menciptakan
Lingkungan Kelas yang Demokratis: Bentuk Perteman Kelas
Menciptakan lingkungan kelas
yang demokratis dapat dilakukan dengan membentuk pertemuan kelas guna membentuk
karakter terpuji santun atau menghoramti orang lain. Menurut Lickona
(2013:212), tujuan perkembangan karakter dari pertemuan kelas yaitu:
a. mengembangkan siswa melalui kebiasaan tatap muka untuk
mencapai kemampuan siswa yang mampu mendengarkan, menghargai, dan menghormati
pendapat orang lain.
b.menyediakan
sebuah forum untuk bertukar pikiran sehingga akan mncul rasa kepercayaan diri
masing-masing individu.
c. membantu perkembangan ketiga bagian karakter, kebiasaan
moral, perasaan, dengan melakukan latihan setiap hari dalam kehidupan di kelas.
d.menciptakan
komunitas moral sebagai sebah struktur dukungan untuk memelihara wilayah sebuah
kualitas karakter yang baik bahwa sejatinya para siswa itu berkembang.
e. mengembangkan sikap dan kemampuan yang dibutuhkan
untuk mengambil peranan dalam kelompok pengambil keputusan secara demokratik.
4)
Mengajarkan Nilai
Melalui Kurikulum
Kurikulum berbasis nilai moral
akan membantu membentuk atau mengkondisikan siswa dalam membentuk karakter
terpuji. Dan salah satunya adalah karakter santun. Dari kurikulum berbasis
nilai moral ini bergerak dan menuju pusat dari proses belajar-mengajar.
5)
Pembelajaran
Kooperatif
Pembelajaran kooperatif dapat
mengembangkan dan membentuk karakter terpuji santun atau menghargai orang lain
karena pembelajaran kooperatif memiliki banyak keuntungan.
Keuntungan-keuntungan tersebut diantaranya, proses belajar kooperatif dapat
mengajarkan nilai-nilai kerja sama, membangun komunitas di dalam kelas,
keterampilan dasar kehidupan, memperbaiki pencapaian akademik, rasa percaya
diri, dan penyikapan terhadap sekolah, dapat menawarkan alternative dalam
pencatatan, dan yang terakhir yaitu memiliki potensi untuk mengontrol efek
negatif.
6)
Meningkatkan
Tingkat Diskusi Moral
Melalui diskusi moral, siswa
mampu bertukar pendapat dengan siswa lain. Hasilnya, mampu membat siswa tersebt
saling menghargai pendapat-pendapat yang memang berbeda dengan pendapatnya.
Diskusi moral ini lebih kebanyakan bertujuan untuk menyamakan pendapat antara
pendapat yang satu dengan lainnya.
2. Keteladanan
Keteladanan
merupakan sikap “menjadi contoh”. Sikap menjadi contoh merupakan perilaku dan
sikap tenaga kependidikan dan peserta didik dalam memberikan contoh melalui
tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta
didik atau warga belajar lain. Contoh kegiatan ini misalnya tenaga kependidikan
menjadi contoh pribadi yang bersih, rapi, ramah, dan patut dicontoh.
keteladanan
menjadi metode utamadalam menanamkan, mengembangkan, dan menghayati nilai-nilai
karakter dalam diri peserta didik. Inilah pengajaran yang hidup. Kata-kata
(pengajaran) menjaditidak efektif jika tidak didukung dengan perbuatan atau
contoh hidup yang baik daripendidik di sekolah maupun orangtua di rumah. Orang
Inggris mengatakan, the bestexample of leadership is leadership by example.
Pendidik adalah orang yangmemberi contoh dan teladan karakter yang baik bagi
peserta didik. Pendidikan danpengajaran akan berdayaguna jika pendidik
(orangtua) memiliki contoh hidup(karakter) yang baik dalam hidup nyata. Para
pendidik harus menjadi saksikebaikan, keadilan, kejujuran, disiplin,
toleran/belarasa, taqwa, dll bagi pesertadidik. Dengan begitu, pendidik menjadi
tokoh model bagi peserta didik. Hilangnya karakter bangsa sekarang ini karena
banyak tokoh model (dalam keluarga, sekolah, masyakat, dan pemerintahan) tidak
lagi menjadi panutan karakter bagi peserta didik akibat mental egoistis,
hedonistis, dan rakus, serta cara berpikir yang pragmatis-temporal yang
menguasainya.
Kesimpulan
Pendidikan karakter adalah usaha atau bimbingan yang dilakukan secara sadar dan terencana agar manusia berperilaku sesuai dengan norma-norma dan aturan-aturan yang berlaku di masyarakat maupundilingkungan keluarga. Terbentuknya karakter seseorang melalui proses yang panjang. Dia bukanlah proses sehari dua hari, namun bisa bertahun-tahun. Dalam ilustrasi seorang yang tinggal sementara di Singapura sebelumnya, kita berharap sepulangnya dia dari sana karakternya akan berubah, tapi kenyataannya tidak. Ini menunjukkan, waktu satu tahun belum sanggup membentuk karakter. Suatu sikap atau prilaku dapat menjadi karakter melalui proses Mengetahui, Menghayati, Melakukan dan Membiasakan.
Pengkondisian berkaitan dengan upaya untuk menata lingkungan fisik maupun nonfisik demi terciptanya suasana mendukung terlaksananya pendidikan karakter. Keteladanan merupakan sikap “menjadi contoh”. Sikap menjadi contoh merupakan perilaku dan sikap tenaga kependidikan dan peserta didik dalam memberikan contoh melalui tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik atau warga belajar lain.
DAFTAR PUSTAKA
Midun Hendrikus, Ulfa Siada. 2017. Inovasi Metode Dan
Penilaian Pembelajaran Pada Pendidikan Karakter Di Era Digital. 17(4) Hal:
282-291.
Kamal, Rahmad. 2014.
Implementasi Pendidikan Karakter di SD/MI. Jurnal Madaniyah. 1(6)
Hal: 20-34.
Repa Pebrianita. 2016. Pembentukan Karakter. http://repapebrianitapgsd14.blogspot.com/2016/06/pembentukan-karakter.html (Diakases pada 16 Mei 2021 Pukul 23.16).
Komentar
Posting Komentar