Suku Aceh dan Filosofinya
Suku Aceh dan Filosofinya
Aceh adalah sebuah provisi indonesia
yang ibukotanya berada di Banda aceh, aceh juga dikenal dengan sebutan serambi
Makkah dimana mayoritas penduduk di Aceh beragama Islam, Aceh juga dianggap
tempat dimulainya penyebaran agama di Indonesia. Daerah Aceh sangat banyak
memiliki keunikan dan ciri khas, dapat dilihat dari bentuk rumah adat Aceh yang
dikenal dengan Rumoh Aceh.
Masyarakat Aceh memiliki budaya yang
berbeda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Perbedaan itu terlihat dalam
tingkah polah, dalam berbicara, adat sopan santun dalam bertamu dan budaya
ketika menjamu tamu. Bagi orang Aceh, prinsip adalah sesuatu yang harus
diperjuangkan dengan gigih. Selain itu, harga diri merupakan sesuatu yang harus
dijunjung tinggi. Berbedanya budaya yang satu dengan yang lain menunjukkan
bahwa bangsa Indonesia telah menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa yang
perlu dilestarikan. Untuk mereaktualisikan budaya yang tersimpan dalam
kehidupan masyarakat Aceh, seseorang harus menyempatkan diri tinggal dan
beradaptasi dengan mereka.
Secara realitas ditemukan bahwa
adat-istiadat yang dimiliki masyarakat ini ada kesamaan dan kemiripan, namun
dijumpai pula perbedaan dalam teknis pelaksanaan atau bahkan dalam hal yang
amat subtansial. Kekayaan khazanah adat ini tidak terlepas dari asal-usul
terbentuknya masyarakat pada periode awal yang mendiami daerah ini. Lahirnya
tradisi dalam masyarakat terbangun dari latar belakang kehidupan kelompok
masyarakat, agama, kepercayaan dan aturan-aturan penting yang disusun bersama
demi kesejahteraan masyarakat itu sendiri.
Suku Aceh merupakan suku yang memiliki sejarah panjang
di masa lalu. Sebutan Suku Aceh ditujukan kepada penduduk asli Aceh yang berada
di wilayah Nangroe Aceh Darussalam, suatu provinsi yang berada di paling ujung
Pulau Sumatera sebelah utara. Mayoritas penduduk Suku Aceh adalah beragama
Islam dan memiliki kekayaan budaya yang beragam. Kebudayaan-kebudayaan
yang dimiliki sarat dengan nilai-nilai Islam dan adat-istiadat setempat. Suku
Aceh memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Nenek moyang Suku Aceh
berasal dari berbagai wilayah di luar Indonesia. Yakni Arab, Melayu,
Semenanjung Malaysia, dan India. Tiap-tiap periode tertentu memiliki ciri khas
budaya dari Nenek Moyang yang berbeda. Hal ini terjadi karena wilayah Aceh
menjadi salah satu tempat singgah paling sering dikunjungi bagi para pedagang
di seluruh dunia.
Masyarakat Aceh sampai saat ini ada
yang tinggal di daerah terisolir atau di desa-desa, ada yang tinggal di dekat
pesisir dan ada juga yang tinggal di lereng-lereng bukit. Biasanya, tipe
masyarakat yang tinggal dekat pesisir karakternya lebih keras dan lebih besar
vokal ketika berbicara, daripada yang tinggal di lereng-lereng bukit.
Pendengaran orang yang tinggal di lereng-lereng bukit itu lebih halus, tajam
dan bersahaja daripada yang tinggal di tepi pantai. Walapun kedua katagori
masyarakat itu masih dalam kelompok masyarakat desa.
Dari aspek postur tubuh dan bahasa
yang diucapkan dalam masyarakat Aceh, biasanya akan memudahkan untuk membedakan
asal dan karakter mereka. Misalnya karakter dan fostur tubuh orang Lamno (Aceh
Jaya) berbeda dengan karakter dan fostur tubuh orang Aceh Besar, orang Gayo,
orang Pidie berbeda karakter dengan orang Meulaboh (A. Barat) dan sebagainya.
Ketika terjadi perbedaan karakter baik dalam pandangan maupun dalam bidang
sosial kemasyarakatan, maka sering terjadi konflik internal yang pada akhirnya
akan terjadi perubahan, perselisihan atau perang saudara. Salah satu contoh
yang kita amati bahwa antara orang Aceh Besar dengan orang Pidie, orang Gayo
dan Aceh Selatan, telah terjadi konflik batin atau konflik internal sejak zaman
dahulu.
Masyarakat Aceh mempunyai pantangan
dan hal-hal yang dianggap tabu. Jika tidak dihiraukan akan berakibat fatal
sampai membawa kepada perkelahian. Di antara pantangan-pantangan itu adalah
pantang dibohongi, jika berteman walupun sudah intim sekalipun tidak boleh
sepak walaupun hanya bergurau karena dianggap hilang kehormatan diri, tempeleng
di kepala, itu berangapan akan menjadi bodoh, kentut di depan orang ramai dan
yang paling tabu lagi ketut di depan guru, `guree`, orang tua dan tokoh-tokoh
masyarakat, itu dianggap aib karena keluar dari tempat yang memalukan.
Dulu sebelum Islam datang, masyarakat Aceh mayoritas
memeluk Agama Hindu. Hal ini dapat dibuktikan dari beberapa budaya Aceh yang
masih memiliki unsur-unsur Hindu dan budaya India. Namun setelah Agama Islam
datang, kebudayaan Aceh mengalami perubahan dan menyesuaikan dengan kebudyaan
Islam.Sehingga sejak saat itu, mayoritas Suku Aceh beragama Islam.
Kebudayaan-kebudayaan Suku Aceh Selatan masih tetap lestari hingga
sekarang. Beberapa kebudayaan Aceh Selatan cukup terkenal dan masih menjadi
suatu ikon yang nampak apabila masyarakat di wilayah lain mengenang tentang
Aceh Selatan
Filosofi
kehidupan orang aceh dapat kita kenal dengan Hadih Maja/nariet maja atau
dikenal dengan peribahasa Aceh , nadih/nariet diartikan dengan ungkapan,
petuah, atau nasihat dan kata maja yang memiliki arti nenek moyang atau dikenal
dengan istilah indatu. Hadih maja merupakan ungkapan singkat keunebah indatu
yang mengandung nilai- nilai dan filosofi kehidupan masyarakat Aceh. Semua aspek kehidupan ada dalam ungkapan
hadieh maja baik itu pendidikan, rumah tangga, pemerintah bahkan keagamaan .
Bunyi
Hadieh Maja tentang keagamaan “peuthen
agama jeut ngon tameuprang, meunan fireuman Allah Ta’ala, kheun agama bek ta
peuwayang ureung taloe prang beuget ta jaga” yang arinya: mempertahankan
agama boleh berperang begitulh firman Allah, pesan agama janganlah dilanggar,
yang kalah perang harus kita jaga”.
Bunyi
Hadieh Maja terkait pemerintahan yaitu “ Adat bak po teumeurehom, hukom bak
Syiah Kuala, kanun bak putroe phang, reusam bak laksama” salah satu buku karangan Ali Hasymi
ini dijelaskan bahwa hadieh maja di atas mempunyai makna yang sangat luas.
Hadieh maja tersebut menunjukkan bahwa adanya pembagian kekuasaan atau sistem
pemerintahan atau kerajaan Aceh Darussalam, yaitu : Kekuasaan eksekutif
(kekuasaan politik dan adat) yang berada di tangan Sulthan yang disebut
potemeurehom, yaitu sultan Iskandar Muda yang menciptakan sistem tersebut dan
dibawah kekuasaan beliau. Kekuasaan Yudikatif (Pelaksanaan hukum) yang berada
di tangan ulama, Karena Syekh Abdurrauf merupakan seorang ahli hukum dan Kadhi
Malikul Adil yang amat menonjol, maka pelaksanaan kekuasaan yudikatif itu
dibangsakan kepadanya yang bergelar Syiah Kuala.
Kekuasaan legislatif (kekuasaan
membuat undang-undang) kekuasaan ini berada dibawah Dewan Perwakilan yang
dilambangkan oleh Puteri Pahang (putroe phang), karena ialah yang memberi
nasehat kepada Sulthan Iskandar Muda untk membentuk Majelis Mahkamah Rakyat.
Peratuan Keprotokolan atau reusam diserahkan kepada Laksamana/panglima perang
Aceh. Hadieh maja di atas telah menjadi pegangan masyarakat Aceh dahulu, ini
membuktikan bahwa hadieh maja mempunyai pengaruh besar dan selalu menjadi
bagian dari pada kehidupan masyarakat Aceh.
Hadieh
Maja terkait pendidikan yaitu “Jak ubee leuet tapak, duek ubee leuet punggoeng” artinya: Berjalan sesuai
dengan kemampuan kaki, mengambil tempat duduk sesuai kebutuhan saja yaitu Menjelaskan tentang keharusan
untuk menghindari keserakahan dalam hidup. Sebab, selalu bijak dalam
menyesuaikan segala sesuatu diyakini menjadi awal untuk membuat hidup lebih
berkah. Jangan mengambil yang bukan hak, dan tidak rakus dalam hidup. Ambil
setiap sesuatu hanya sesuai kebutuhan. Ini bertujuan agar anak-anak Aceh bisa
terhindar dari keresahan akibat dari keserakahan.
Hadieh
maja terkait dengan memilih seorang pemimpin dengan benar “paleh agam han jeut duek banja, paleh aneuk muda han lop pakat” , maknaya: celaka pria yang tidak
bisa bisa bermusyawarah, celaka anak muda yang tidak menjalankan kesepakatan
bersama. Sementara untuk pemimpin diungkapkan paleh raja geudeungo haba
beurangkasoe, celaka pemimpin yang mendengar bisikan siapa saja dalam
kepemimpinannya.
Didalam hadieh maja juga terdapat
filosofi sifat orang aceh yang berbunyi ““UreungAceh meunyoe ate hana
teupeh kreeh jeuet taraba, tapi meunyoe ate jih kateupeh, bu leubeh han le jipeutaba” yang memiliki arti hatinya tidak disakiti,
dipegang barang terlarang pun rasanya tidak apa-apa, tapi kalau hatinya sudah
disakiti, meskipun nasinya lebih, tapi kita tidak lagi diajak makan. Sifat itu
memang terbukti dalam pengalaman sejarah Belanda di Aceh. Makin keras Belanda
ingin menaklukan Aceh, makin keras pula orang Aceh melawannya. Hingga Belanda
mencatat dalam sejarahnya, dari keseluruhan perang yang pernah mereka lakukan
di nusantara, perang yang paling besar dan yang paling sulit mereka hadapi
adalah perang dengan rakyat Aceh.
Filosofi masyarakat Aceh dalam
menyambut tamu yaitu “Peumulia jame adat
geutanyoe”, itulah kata-kata yang sering terdengar dan menjadi semboyan
masyarakat Aceh untuk menyambut tamu.Pemulia jamee berarti memuliakan tamu atau
menghormati tamu, hal ini merupakan nilai-nilai yang diterapkan dalam agama
Islam. Kata-kata peumulia jame merupakan kebiasaan yang diangkat menjadi budaya
dalam masyarakat Aceh. Setiap daerah di Aceh memiliki cara dalam penyambutan
tamu atau memuliakan tamu. Biasanya dalam penyambutan tamu maka tuan rumah akan
menyuguhi tau menghidangkan berbagai macam khas Aceh sesuai dengan khas makanan
dari daerah tersebut, selain itu ada yang menghadiahkan oleh-oleh khas daerah
tersebut sebagai tanda penghormatan kepada tamu.
Rumoh Aceh berbentuk rumah panggung,
gaya rumah adat aceh memiliki filosofi tersendiri yaitu dibuat dengan jarak
diatas tanah 2,5- 3 meter, agar dibawah rumah tetap masih bisa melakukan
aktivitas serta untuk menyimpan hasil panen atau tani dan juga berfungsi untuk
penyelamatan contohnya banjir, penyerangan hewan buas, dan lainnya. Rumoh Aceh Meskipun jarak antara tanah dan lantai rumah lumayan
tinggi, pintu didesain sedikit rendah. Tinggi pintu hanya sebatas berdiri orang
dewasa. Bagian atas pintu diberikan balok melintang sehingga setiap orang yang
mau masuk rumah terlebih dahulu harus menundukkan kepala. Hal ini mengandung
makna bahwa setiap tamu hendaknya menaruh hormat pada tuan rumah, tidak
mendongakkan kepala. Rumoh Aceh sengaja dibuat menghadap kiblat karena
masyarakat aceh menganut agama Islam.
Filosofi pembentukan karakter di Aceh
Menurut Snouck
Hurgronje Aceh adalah sebuah negeri yang sudah tua, rakyatnya keras, suka
berperang dan fanatik terhadap Islam. penasihat pemerintah Hindia Belanda juga
telah mengkaji masalah Aceh, akhirnya dia berkesimpulan bahwa masyarakat Aceh
adalah masyarakat yang “heroik”, mereka patut dibanggakan atas keberanian dan
kegigihannya melawan kaum penjajah. Dilihat dari sikap mentalnya, menurut
sejarawan Prof. Abu Bakar Aceh, orang Aceh ini hampir mirip sifatnya dengan
orang Badui di Jazirah Arab. Kesamaan ini kata Abu Bakar, karena selain orang
Aceh memiliki watak yang keras yang sama kerasnya dengan kaum Badui di tanah
Arab—namun di balik watak yang keras itu orang Aceh juga memilki sifat yang
sangat lembut. Artinya, orang Aceh lebih merasakan sesuatu dengan perasaannya.
Kelembutan sifat orang Aceh ini tercermin dalam setiap tutur kata yang
lemah-lembut dengan bahasa-bahasa metafora yang penuh seni.
Pada dasarnya,
masyarakat Aceh memang memiliki kelembutan sifat yang terpuji. Meski berwatak
keras, namun memiliki sifat yang sangat ramah. rlihat dalam sifatnya
keramahannya dalam memuliakan tamu. Orang Aceh sangat menghargai dan memuliakan
setiap orang luar yang datang berkunjung ke daerahnya. Menurut orang Aceh tamu
adalah raja, tamu dapat menginap dirumah tuan rumah maksimal 3 hari. Memuliakan
tamu bagi orang Aceh adalah suatu kewajiban yang diyakini sebagai anjuran dari
ajaran agama Islam. Karena Islam mengamanahkan, apabila datang tamu pada saat
kita sedang makan, dan makanan lain tidak tersedia, maka makanan yang sedang
dimakan itu harus dibagi kepada tamu yang datang. Anjuran agama ini sangat
dipegang teguh oleh orang Aceh. Selain itu, orang Aceh juga memiliki sifat
toleransi sosial yang sangat tinggi. Hal ini tercermin dalam sifat
tolong-menolong antarsesama. Baik dalam bentuk yang bersifat material, maupun
dalam bentuk fisik (pikiran) dan ternaga. Orang Aceh menjunjung tinggi nilai-nilai kolektivitas. Hal ini
tampak dari kebiasaan orang Aceh untuk berkumpul Seperti di:
1.
Warung kopi, pada malam
hari setelah sholat magrib mayoritas pria di aceh akan duduk di warung kopi
sampai jam 10 malam atau lebih, setelah saya melakukan wawancara dengan
beberapa pemuda di aceh utara tentang mengapa mereka selalu duduk di warung
kopi. Mereka menjawab dengan duduk di warung kopi mereka akan mendapatkan
sebuah inspirasi.
2.
Kenduri, apabila ada musibah atau kemalangan yang dialami oleh
seorang warga masyarakat di Aceh, maka warga lainnya datang beramai-beramai
membatu warga yang terkena musibah atau kemalangannya seperti mendirikan tenda,
memasak untuk tamu dan lainnya.
3.
Saling kunjung
4.
Serta upacara-upacara
yang melibatkan banyak orang.
Di Aceh apabila seseorang membeli
motor, mobil, atau rumah yang baru dibangun harus melakukan peusijuk. Dan
apabila seorang anak telah menikah, maka makan dan minum menantu di tanggung
oleh orang tua maksimal 3 tahun.
Karakter masyarakat Aceh
Sebagaimana diulas Dr. Mohd Harun M
Pd dalam bukunya “Memahami Orang Aceh”.
1.
Militan
Memiliki
semangat juang yang tinggi. Bukan hanya dalam memperjuangkan makna hidup tetapi
juga dalam mempertahankan harga diri atau eksistensinya. Militansi Aceh adalah
militansi dalam makna mempertahankan kebenaran yang diyakini masyarakatnya.
2.
Reaktif
Memiliki
sikap awas atas harga diri yang keberadaannya dipertaruhkan dalam konstelasi
sosial budaya. Orang Aceh sangat peka terhadap situasi sosial di sekitarnya.
Orang Aceh tidak suka diusik, sebab jika tersinggung dan menanggung malu reaksi
yang timbul adalah akan dibenci dan bahkan menimbulkan dendam. Hingga orang
Belanda pada masa perang kolonial melabeli orang Aceh sebagai ‘Aceh Pungo’
alias Aceh Gila.
3.
Konsisten
Hal ini
tampak dalam sikap dan pendirian yang tidak plin-plan, tegas, dan taat. Apalagi
jika berkaitan dengan harga diri dan kebenaran. Sebagai representasi dari sifat
ini terungkap dalam idiom masyarakat Aceh ‘meunyoe ka bak u, han mungken bak
pineung’ (Jika sudah pohon kelapa, tidak mungkin pohon pinang).Konsistensi
orang Aceh terlihat dalam patriotisme melawan penjajah, sejak zaman kerajaan,
perang kolonialis, sampai pada zaman kemerdekaan.
4.
Optimis
Tampak
dalam melakukan suatu pekerjaan tertentu. Orang Aceh beranggapan setiap
pekerjaan yang kelihatan sulit dan berat harus dicoba dan dilalui. Perang
terlama melawan penjajah Belanda dilakoni hingga Belanda benar-benar harus
angkat kaki dari Aceh. Walaupun berhadapan dengan kecanggihan mesin perang,
masyarakat Aceh tetap optimis dengan modal militansi.
5.
Loyal
Ini amat
berkaitan dengan kepercayaan. Jika seseorang, lebih-lebih pemimpin, menghargai,
mempercayai, tidak menipu, tidak mencurigai orang Aceh, mereka akan membuktikan
diri sepenuhnya kepada sang pemimpin. Kendati tidak semua hadih maja (petuah
Aceh_red) dalam “Memahami Orang Aceh” dapat berlaku secara harfiah di segala
zaman, nilai filosofis di dalamnya tetap menggambarkan tipologi masyarakat Aceh
secara keseluruhan. Filosofis yang diemban hadih maja itu masih terlihat dalam
masyarakat Aceh Selatan hingga kini. Karakter-karakter demikian pun akan
ditemukan jika berinteraksi langsung dengan masyarakat Aceh Selatan. Namun jika
sangat ingin melihat warga asli Aceh Selatan, kesempatan terbaik adalah ketika
Hari Raya Idul Fitri. Pada momen ini masyarakat pendatang akan pulang kampung
sehingga tersisalah masyarakat asli Aceh Selatan. Pahami karakter masyarakat
Aceh Selatan, maka orang pendatang akan menjadi teman, bahkan saudara.
6.
Religius
Orang Aceh terkenal taat menjalankan agama
dan mempertahankan syariat agamanya. Meski sama dengan sejumlah muslimin dan
muslimah lainnya yang membedakannya adalah peranan pemerintah memberi jaminan
dan mendukung melestarikan prinsip agama di wilayah Aceh.Orang Aceh menjunjung
tinggi kebebasan beragam ummat lainnya dan menghormati pemeluk agama lainnya
selama saling menghormati.
7.
Temperamen
Selain sisi religius yang tinggi,
masyarakat Aceh juga dikenal sebagai etnis yang memiliki tingkat emosional
(amarah) yang meluap-luap. Orang Aceh walau tidak seluruhnya ya, pada umumnya
begitu sensitif dan Temperamen. Ada istilah siap 'membeli bila dijual.'
Maksudnya, jika ada yang mencari ribut, maka mereka siap meladeni.
8.
Suka ngaret
Salah satu Sifat raja yg dimiliki raja
adalah sering datang belakangan atau yang lebih afdal disebut ngaret. Acara
atau janji yang sudah ditetapkan misalnya pukul 14:00 WIB, akan tetapi satu jam
kemudian barulah terlihat batang hidungnya.Kebiasaan ngaret sudah menjadi
budaya masyarakat kita yang tidak baik tapi semakin dilestarikan bersama
banyaknya variasi alasan yang bisa dipakai. Dari: OTW, macet dan baru ingat
ternyata ada janji atau acara jam segitu.
9.
Perantau
Salah satu sifat unik orang Aceh yang tak
kalah menarik adalah jiwa perantaunya yang tinggi. Orang Aceh khususnya
Lhokseumawe dan Pidie akan merasa malu jika anaknya (khususnya lelaki) hanya
berdiam diri di kampung tanpa pergi ke daerah lain untuk bekerja atau
kuliah.Sosok orang Aceh seperti ini sebelum merantau biasanya dibekali dengan
tiga skill khusus, diantaranya pinter memasak, atau pandai menjahit, serta
berdagang. Bila memiliki salah satu dari skill tersebut, maka orang tersebut
dipercaya dapat bertahan baik dimasa perantauaannya.
Sifat-sifat Orang Aceh
Sifat orang Aceh yang sangat di kenal
adalah keras, dikarenakan pernah terjadinya konflik didaerah tersebut yang
menjadi berita hangat dan buah bibir dikalangan masyarakat pada masanya.
Bingkeng, merupakan salah satu
karakter yang menjadikan sifat masyarakat Aceh menjadi keras, masyarakat Aceh
dikenal dengan semut merahnya (sidom apui). Sifat bingkeng merupakan sifat yang
mudah marah seperti semut merah yang terganggu, sifat bingkeng sangat mudah
keluar dari karakter masyarakat Aceh apabila hidupnya terganggu. Karakter
bingkeng merupakan karakter khas yang tertanam di masyarakat Aceh.
Sifat orang Aceh, selain sifat yang
terkenal keras pada masyarakatnya, masyarakat Aceh juga memiliki sifat yang
sangat Meuagama (religius). Aceh terkenal dengan sebutan serambi mekkah, Tak
hanya daerah yang memiliki ulama yang sangat banyak, karakter masyarakat Aceh
tak kalah religiusnya seperti Saudi arabia, tak sedikit di Aceh terdapat
dayah-dayah dan pesantren yang megah dan terkenal.
Masyarakat Aceh tetap tegar kepada
prinsipnya, seperti budaya, pakaian, hukum, dan perilaku masyarakat pada
umumnya. Seperti kegiatan yang berbaur islami sangat lah ketat di daerah
tersebut, dan Aceh merupakan daerah yang sangat menghargai penyambung lisan
para nabi (Ulama). "Nyang peu doeng rumoeh utoeh kontrakto, Nyang peu
doeng Naggroe wali ngen ulama", mungkin kata² tersebut yang patut kita
tuturkan kepada sifat orang Aceh yang sangat menghargai ulama.
Sifat orang Aceh,, selain terkenal
dengan daerah yang taat syariat Islam dan religius, Aceh juga terkenal dengan
sifat Leumoeh hate (berbagi). "Mulia Jamee Ranup lampuan, mulia Rakan
mameh bak Haba", mungkin itu yang sering terdengar di syair dan bait pada
pada kesenian aceh. Ya, Aceh juga sangat terkenal dengan memuliakan tamu
(pemulia Jame) menjadi karakter dan sifat masyarakat Aceh. Tamu sangatlah mulia
dalam kehidupan masyarakat Aceh, tamu diibaratkan dengan keluarga yang lama tak
berjumpa. Memuliakan tamu menjadi tradisi masyarakat Aceh sesuai dengan Islam
yang telah berkembang di dalamnya.
Sifat orang Aceh, dan Aceh juga
sangat terkenal dengan daerah Leumoeh tuleung (solidaritas), Aceh menjadi
daerah penampung masyarakat Islam dari Rohingya, dengan kerendahan hati dan
solidaritas kemanusiaan Aceh menjadi tempat bagi masyarakat Islam rohingya
untuk beristirahat, tak hanya itu di Aceh juga sangat gemar Meu khanduri (berbagi)
bahkan juga menjadi tradisi dalam masyarakat Aceh untuk kebersamaan.
"Menyoe keu hate padee ta top, Hana bak droe ta lakee bak goep",
mungkin itu serpihan kata-kata yang keluar dari masyarakat Aceh dalam khanduri
(berbagi).
Sifat orang Aceh, tak hanya meu
khanduri (berbagi), sifat masyarakat Aceh terkenal dengan pungoe (gila).
Kata-kata yang pernah terdengar pada bibir masyarakat Aceh "Pungoe that
kah", Pungoe (gila) pada sifat masyarakat Aceh bukan berarti kehilangan
akal atau stress tetapi gila pada masyarakat Aceh merupakan tetap kepada
prinsipnya. Masyarakat Aceh sangat sungguh-sungguh melakukan sesuatu yang telah
dia yakin sehingga dengan keyakinan semuanya akan tercapai, kata-kata
"Pungoe that kah" menjadi buah bibir pada masyarakat Aceh dan menjadi
kekaguman terhadap melakukan sesuatu.
Ciri-ciri orang aceh
1.
Orang Aceh terkenal taat
menjalankan agama dan mempertahankan syariat agamanya. Meski sama dengan
sejumlah muslimin dan muslimah lainnya yang membedakannya adalah peranan
pemerintah memberi jaminan dan mendukung melestarikan prinsip agama
(Islami) di wilayah Aceh.
2. Orang Aceh menjunjung
tinggi kebebasan beragam ummat lainnya dan menghormati pemeluk agama lainnya
selama saling menghormati.
3.
Orang Aceh terkenal
setianya jika sudah mengenal baik atasan, teman, tetangga dan lingkungannya.
Mereka akan patuh dan taat menjalankan tugas-tugasnya.
4.
Orang Aceh terkenal taat
pada Syariat dengan menjauhi larangan Allah dan menjalankan perintah
Allah.
5.
Orang Aceh terkenal taat
hukum dan aturan yang dibuat oleh Kerajaan pada masa lalu dan peraturan
pemerintah pada masa-masa kemerdekaan RI.
6.
Orang Aceh patuh pada
pimpinannya termasuk terhadap pemimpin wanita sekalipun seperti yang
diperlihatkan terhadap Laksamana Kuemalahayati, Cut Meutia, Cut Nya’ Dhien dan
lain-lainnya.
7.
Orang Aceh juga terkenal
banyak akalnya, cerdik dan tidak gampang menyerah. Jika diarahkan pada hal-hal
positif sikap ini akan menjadi modal utama sebagai individu yang handal
dan tangguh di segala bidang. Akan tetapi jika mengarah pada hal-hal negatif,
maka sikap ini disebut “licik” atau akal bulus. Ini yang harus
dijauhi.
8.
Orang Aceh melakukan
pekerjaan sama dengan berjuang. Berbakti kepada bangsa, negara dan keluarga
adalah berjihad atau berjuang di jalan Allah. Oleh karenanya jika ia telah menguasai
bidangnya maka ia akan menjadi SDM handal pada bidangnya, mencintainya dan
loyal hingga rela mengorbankan jiwa raganya untuk menjaga pekerjaan dan
institusinya.
9.
Menghargai orang lain
10. Menghormati aturan hukum, Undang-undang dan syariat Islam
11. Tenggang rasa dan Penolong. Tenang, tidak lekas naik darah.
12. Tidak congkak, iri dengki dan sombong apalagi takbbur atau
tinggi hati.
13. Tidak egois, lebih suka mementingkan kebutuhan orang lain
14. Setia, loyal dapat dipercaya oleh atasan, majikan atau
keluarganya
15. Menjunjug tinggi budayanya
16. Menghormati suku bangsa dan agama lainnya.
17. Sesama muslim adalah saudara utama dan terutama
18. Sesama orang Aceh adalah saudara dekat sehingga tak perlu
berlebih-lebihan
19. Sesama bangsa Indonesia adalah tetangga yang dekat yang perlu
dihormati dan disayangi.
Kebudayaan Suku Aceh Selatan
Ciri khas
kebudayaan Aceh selatan tidak bisa dilepaskan dari sejarah, adat istiadat, dan
Islam. Berikut beberapa jenis kebudayaan yang dimiliki oleh Suku Aceh Selatan:
1.
Rumah Adat
Rumah adat yang
dimiliki Suku Aceh Selatan adalah rungko desa Koto, Kluet Tengah yang merupakan
salah satu rumah adat yang terletak di
kecamatan Tapak Tuan, Kabupaten Aceh Selatan yang memiliki daya Tarik yang unik
dengan desain rumah ciri khas aceh yang terbuat dari kayu dan memiliki beberapa
ukiran yang indah.
2. Bahasa
Bahasa yang
digunakan oleh Masyakarat aceh Selatan pada umumnya akan tetapi di Aceh Selatan
memakai Tiga Bahasa menurut daerahnya yaitu Bahasa Aceh, melayu/jame, dan
Bahasa kluet.
3. Pakaian Adat
Aceh Selatan
juga memakai pakaian adat aceh pada umumnya yang memiliki jenis pakaian adat
yang dikenakan pada acara-acara tertentu. Pakaian adat aceh dibedakan
menjadi 2 jenis, yakni pakaian adat laki-laki dan pakaian adat perempuan.
Masing-masing pakaian adat tersebut memiliki nama dan ciri khas yang berbeda.
Pakaian-pakaian adat ini dipakai pada acara-acara tertentu saja, seperti acara
pernikahan, upacara adat, dll. Untuk pakaian laki-laki, mereka mengenakan
perpaduan pakaian antara baju Meukasah dengan celana Cekak Musang. Baju
Meukasah merupakan pakaian berwarna hitam lengkap dengan pernik-pernik berwarna
kuning keemasan. Sementara Cekak Musang merupakan jenis celana yang longgar dan
panjang yang erat sekali dengan nilai-nilai melayu dan Islam. Sementara untuk
pakaian perempuan, mereka juga mengenakan perpaduan pakaian, yakni baju Kurung
Lengan Panjang dengan celana Cekak Musang. Baju Kurung Lengan Panjang berciri
khas longgar dan tertutup. Sama seperti celana Cekak Musang, baju Kurung Lengan
Panjang juga sangat erat dengan nilai-nilai melayu dan Islam. Baju ini biasa
dikombinasikan dengan jilbab atau kerudung.
4. Upacara Adat
Upacara adat
juga menjadi tradisi masyarakat Aceh. Biasanya, upacara adat yang sering
diselenggarakan adalah upacara perkawinan. Upacara ini dilaksanakan melalui
beberapa tahapan, seperti melamar calon pengantin, acara tunangan, pesta,
penjemputan mempelai perempuan, sampai pada penjemputan mempelai laki-laki.
Selain upacara perkawinan, ada juga upacara peusijuek, yang upacara yang
dilaksanakan dengan memercikkan benih-benih air yang telah dicampur tepung
tawar pada seseorang yang memiliki hajat tertentu.
5. Tarian Adat
Aceh juga kaya
akan tarian adatnya. Salah satu tarian adat yang cukup terkenal adalah Tari
Seudati. Tarian ini berupa gerakan yang enerjik, khas, serta lugas dengan
mengandalkan gerakan tangan dan kaki. Tangan dan kaki yang dilakukan dengan
sangat lincah dan cepat, sehingga menghasilkan gerakan-gerakan yang berirama
dan harmonis. Selain Tari Seudati, ada juga tarian yang terkenal, yakni Tari
Saman. Tarian ini dilakukan dengan gerakan tepukan pada bagian tangan,
dada, dengan tanpa diiringi alat musik. Namun, walaupun tanpa disertai alat
musik, tari ini tetap meriah karena gerakan-gerakan penari yang
bersemarak, sehingga menarik dan indah untuk dilihat. Selain Tari Saman,
terdapat tarian-tarian lain seperti Tari Laweut Aceh, Tari Tarek Pukat, Tari
Didong, Tari Ratok Duek Aceh, dan tarian-tarian lainnya.
6. Senjata Tradisonal
Aceh juga
memiliki senjata tradisional yang terkenal, yakni Rencong. Senjata ini mirip
dengan keris yang dulu dipakai oleh Suku Aceh pada masa Kesultanan Aceh.
Terdapat berbagai jenis senjata Rencong, seperti Renconng Meupucok, Rencong
Meukuree, Rencong Meucugek, dan Rencong Pudoi. Selain Rencong, Aceh juga
memiliki senjata tradisional lainnya seperti Siwah dan juga Peudeung. Sekarang
dari tangan Mahasiswa Politeknik Aceh Selatan menciptakan Rencong yang terbuat
dari Batu Marmer.
7. Makanan Adat
Makanan adat
khas Aceh selatan adalah Manisan Pala yang merupakan suatu pendapatan perekonomian
masyarakat Aceh Selatan. Ada juga makanan khas Aceh Selatan yang menggunakan
bahan dasar ikan, yang dinamakan eungkot paya. Selain makanan adat
tersebut, terdapat makanan-makanan adat lainnya seperti sanger, kembang
loyang, kue rambut, boy, keumamah, dan lain-lain. Anda dapat mencobanya suatu
saat ketika berkunjung ke wilayah Tapak tuan Aceh Selatan.
8. Lagu Daerah
Lagu daerah Aceh
juga merupakan salah satu jenis kebudayaan Aceh. Dengan dilengkapi lagu daerah,
seni-seni yang terlukis dalam kebudayaan Aceh menjadi lebih lengkap dan
kompleks. Lagu daerah yang cukup terkenal dan sering dinyanyikan Suku Aceh
adalah Bungong Jeumpa dan Piso Surit. Selain itu, terdapat jenis-jenis lagu
daerah lainnya, seperti Tawar Sedenge, Aceh Lon Sayang, Sepakat Segenap, Aneuk
Yatim. Itulah beberapa jenis kebudayaan Suku Aceh yang begitu menarik untuk
dipelajari. Kebudayaan-kebudayaan tersebut tidak dapat dilepaskan dari
nilai-nilai Islam dan adat-adat kemelayuan.
Ciri khas budaya yang dimiliki sangat dipengaruhi oleh
sejarah Suku Aceh di masa lalu. Berbagai macam kebudayaan tersebut menjadikan
Suku Aceh sebagai suku yang bermartabat dan memiliki nilai-nilai sejarah yang
tinggi.
Karakter Budaya Rendah
Seperti telah disinggung sebelumnya,
bahwa kepercayaan dan alam pikiran sebagian penduduk masih didominasi dan
dilatar belakangi oleh kondisi normatif yang Islami, maka ada sikap dan prilaku
masyarakat dalam kepercayaan dan alam pikiran yang berbau mitos atau magis, ini
masih menunjukkan cara yang bersifat sementara, antara lain :
·
Sangat tergantung pada
kebijakan-kebijakan dari penguasa baik dari segi ekonomi, politik, maupun
kalangan sosial kemasyarakatan.
·
Lemah dalam hal-hal yang
menyangkut inisiatif, kualitas, lebih-lebih dalam keberanian inovasi termasuk
keberanian mengambil resiko.
·
Telah sangat menurun
(kurang) dalam hal kepercayaan diri, sehingga yang dikemukakan adalah rasa-rasa
khawatir dan takut.
·
Kurang memiliki rasa
tanggung jawab, bahkan cenderung untuk lari dari tanggung jawab, mencari
kambing hitam atau mencari alasan-alasan tertentu yang tidak jarang beresiko
merugikan orang lain
·
Sangat kurang kepercayaan
kepada pemimpin-pemimpin masyarakat, baik pimpinan agama, politik maupun
pimpinan-pimpinan adat.
·
Dimana satu sisi terlihat
sangat moralistic, tetapi di sisi lain sering kali melalaikan “etika” kelalaian
menimbulkan rasa malu serta dimunculkan ungkapan baru yang
berbunyi, “Meunyoe thaet ta pateh haba kitab meu boh u tupe kap han
tateumeung rasa.”
·
Di samping
premondialisme, feodalisme dan patrionalisme yang sebenarnya sudah kehilangan
kredibilitasnya dan intitusionalnya, tetapi dalam setiap sikap dan prilaku
individual seolah-olah sudah ditumbuh kembangkan, sehingga semakin jelas
terlihat bentuk sikap dan prilaku keseharian hampir disetiap individual.
·
Keadaan di atas semakin
diperparah oleh pengalaman-pengalaman pahit “Ureung Aceh” dalam beberapa dekade
belakangan ini sehingga akan terbentuk sikap-sikap dan prilaku setiap institusi
kelompok masyarakat di antaranya:
·
Orang Aceh selalu merasa
diri lebih baik dari orang lain, terutama dalam meresapi sejarah Kerajaan Aceh
dan memperingati masa perjuangan kemerdekaan, walaupu pada realitasnya adalah
benar adanya.
·
Sedikit dari mereka yang
bisa menerima kritikan, jika banyak dikritik seolah-olah telah menginjak-injak
harga diri dan kesopanan.
·
Hilangnya sifat berani
berkompetisi diganti oleh sifat-sifat “ku`eh” atau iri hati terhadap
orang lain yang kebetulan lebih maju se langkah daripadanya.
·
Sering mengutamakan dan
mengejar prestise, sehingga prestasi sering diabaikan, akibatnya orang Aceh
sekarang kehilangan jati diri.
·
Rendahnya kedisiplinan
diri, terutama dalam kehidpan hari-hari. Sering orang Aceh menghabiskan waktu
berjam-jam di warung kopi bahkan lupa kerja dan anak isteri di rumah.
·
Rasa idealisme yang
tinggi, sehingga banyak dari masyarakat Aceh yang masih
mempertahankan, “kraek”-nya walapun tidak benar sekalipun.
·
Sebagian masyarakat sudah
mengadopsi kecenderungan pola hidup konstruktif, sehingga terkesan boros, tidak
seperti sebagian mereka yang sangat menekankan prinsip hemat. Prinsip ini
tergambar dalam ungkapan, “Tanguei ban laku teuboeh ta pajoh ban laku
harta.” “tajak ubeu lot tapak.” “bek tasoek bajei goeb” Ungkapan ini bermakna
sesuatu kebutuhan itu harus bercermin pada kemampuan diri.
·
Lebih menghargai orang
yang mempunyai predikat tertentu atau kekayaan yang menonjol daripada
menghasilkan karya yang bermutu atau tanpa mengkritisi darimana mereka
memperoleh predikat tertentu dari kekayaan yang menonjol tersebut.
·
Suka menokohkan seseorang
yang mereka senangi biarpun tidak intelek atau pandai dalam agama. Akibatnya
akan terjadi krisis tokoh atau krisis kepemimpinan sepanjang sejarah Aceh.
·
Kurangnya pengkaderan
tokoh dalam masyarakat Aceh, sehingga ketika mereka harus memilih seorang
tokoh, memilih dengan cara terdesak berdasarkan, “budaya tidak enak” bukan
berdasarkan kapasitas, intelektualitas dan karismanya.
·
Orang Aceh kurang pintar
berbahasa Indonesia. Kenyataan ini terlihat tatkala ada forum-forum ilmiah yang
diikutsertakan oleh para mahasiswa, santri, dosen maupun para ulama, banyak
dari mereka ketika berbicara dalam bahasa Indonesia terputus-putus atau
tersendak-sendak atau diam seribu bahasa ketika bertanya atau memberi pendapat
atau menyanggah pendapat orang lain. Dalam hal ini bukan berarti orang Aceh
tidak memiliki ilmu pengetahuan jika dibandingkan dengan masyarakat lain di
tanah air.
Berikut ini merupakan macam-macam
upacara adat dan budaya Aceh antara lain:
1.
Upacara Troen U Blang. Kenduri Blang di Aceh
2.
Upacara Tulak Bala. Di dalam kehidupan pastinya akan selalu bala atau
musibah yang sebisa mungkin dapat dihindari oleh manusia.
3.
Peutron Aneuk.
4.
Samadiyah.
5.
Meugang.
Adat dan budaya Aceh memang sangatlah
unik dan beragam. Salah satunya seperti upacara adat Aceh yang masih bertahan
di tengah-tengah masyarakat Aceh sampai saat ini. Walaupun memang sudah ada
beberapa tradisi yang ditinggalkan dan hanya dilakukan di tempat-tempat
tertentu saja oleh penduduknya di Aceh.
Budaya Aceh memang sangat terkenal dengan upacara adat dan
budayanya yang sakral. Misalnya upacara adat untuk kelahiran hingga upacara
adat untuk kematian. Berikut ini merupakan macam-macam upacara adat dan budaya
Aceh antara lain:.
·
Upacara Troen U
Blang
Atau juga disebut
Kenduri Blang (blang = sawah) merupakan sebuah upacara hajat yang dilakukan
saat memulai musim padi di Aceh. Upacara tersebut dilakukan dengan tujuan agar
tanaman padi dapat panen dan menghasilkan padi yang berlimpah. Sehingga dapat
menambah penghasilan ekonomi penduduknya.
·
Upacara Tulak Bala
Di dalam kehidupan
pastinya akan selalu bala atau musibah yang sebisa mungkin dapat dihindari oleh
manusia. salah satunya cara yang unik di Aceh untuk menolak bala adalah dengan
melakukan Upacara Tulak Bala atau Tolak Bala. Upacara ini biasanya
dilakukan pada bulan Shafar tahun Hijriyah yang merupakan bulan panas dan
biasanya membawa banyak bahaya. Tradisi Upacara Tulak Bala biasanya banyak
dilakukan oleh masyarakat di Aceh Barat dan Aceh Selatan.
·
Upacara peutreun
aneuk
Biasanya
akan dilakukan oleh masyarakat Aceh untuk menyambut kelahiran anak bayi di
dunia. Sedangkan waktu pelasanaan Upacara Peutron
Aneuk dilakukan dalam beberapa waktu
seperti hari ke tujuh setelah kelahiran, dan ada juuga pada hari ke 44 dari
usia si bayi. Dalam upacara Peutron lebih banyak menggunakan ritual-ritual yang
simbolik, seperti merentangkan kain di atas kepala bayi dan membelah kelapa di
atas kain. Kemudian kelapa akan diberikan kepada kedua orang tua yang
melambangkan agar terus rukun. Ada juga yang megatakan buah kelapa yang dibelah
bertujuan agar bayi tidak takut dengan suara petir. Samadiyah merupakan
tradisi adat dan budaya Aceh untuk berdoa secara bersama-sama untuk menghormati
orang yang baru meninggal dunia. Samadiyah biasanya dilaksanakan selama tujuh
hari tujuh malam secara berturut-turut setelah meninggal dunia. Masyarakat
sekitar akan datang ke rumah keluarga untuk menghibur dan berdoa bersama dengan
pembacaan zikir dan surat Yasin. Ada pula di beberap daerah lainnya, samadiyah
dilakukan di Meunasah, atau surau kampung.
·
Samadiah
Samadiyah
merupakan tradisi adat dan budaya Aceh untuk berdoa secara bersama-sama untuk
menghormati orang yang baru meninggal dunia. Samadiyah biasanya dilaksanakan
selama tujuh hari tujuh malam secara berturut-turut setelah meninggal dunia.
Masyarakat sekitar akan datang ke rumah keluarga untuk menghibur dan berdoa
bersama dengan pembacaan zikir dan surat Yasin. Ada pula di beberap daerah
lainnya, samadiyah dilakukan di Meunasah, atau surau kampung
·
Meugang
Menjadi upacara
tradisi adat dan budaya Aceh yang paling menarik. pada saat itu semua rumah
keluarga akan dipenuhi dengan aroma masakan daging sapi atau kambing. Daging
yang telah dimasak akan dinikmati bersama dengan keluarga, kerabat, anak yatim
piatu, dan juga kaum dhuafa. Meugang di Aceh dilaksanakan pada
sebelum Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
·
Jakba Tanda
Tradisi
Jakba Tanda merupakan kelanjutan dari proses lamaran yang biasa dikenal dengan
istilah BaRanup. Jika lamaran diterima, keluarga pihak pria akan
melakukan peukonghaba atau pembicaraan mengenai meugatib atau
kapan pernikahan akan dilangsungkan, berapa jumlah tamu yang akan diundang,
hingga jenis dan jumlah mahar. Pada tradisi ini, keluarga sang pria akan
mengantarkan makanan khas Aceh seperti buleukatkuneeng,
buah-buahan, hingga perhiasan. Tradisi ini sendiri diyakini telah dipengaruhi
oleh adat istiadat yang berasal dari Arab dan India.
Aceh Selatan
Seperti ditempat tinggal Nana di Aceh
Selatan tepatnya di kecamatan Bakongan, kami juga mempunyai karakteristik suku
yang berbeda, disini kami mempunyai 3 bahasa, ada bahasa Aceh, bahasa kluet,
dan bahasa jamee.
Di aceh selatan juga mempunyai adat
istiadat yang sama seperti aceh pada umumnya, contoh, saat mulai bercocok tanam
disini juga mempunya cirri khas yang sangat luarbiasa, karena sebelum bercocok
tanam diadakannya kenduri blang, baru setelah itu kenduri leubeh bijeh ( benih
lebih) baru kenduri bungong pade ( padi). Makanan khas Aceh selatan adalah
Bungong Pala, selain dari bungong pala masyarakat aceh selatan juga gemar
memasak plik U dan masih ada banyak lagi.
Nama kabupaten Aceh selatan adalah Tapaktuan, dibalik nama Tapaktuan
terdapat kisah-kisah misteri dibaliknya, seperti yang banyak diketahui oleh
masyarakat aceh selatan bahwa dulunya ada perkelahian antara Tuan Tapa dengan 2
ekor naga, jadi sekarang di Kota tapaktuan banyak destinasi wisata yang sangat
indah, seperti puncak gemilang, tapak tuan tapa, batu itam ( kopiah tuan tapa),
air terjun 7 putri, dan air dingin.
Komentar
Posting Komentar